Pemikiran Perjalanan

Kepada Stasiun

By on 25 Maret 2018

Kepada tempat perayaan perpisahan dan pertemuan, selamat sore.

Bagaimana kabar ular-ular besimu? Bagaimana kabar warung-warung kecil yang berjejer diantara pintu masuk dan keluar milikmu? Bagaimana kabar peliknya lobi dan pekatnya aroma air mata di ruang tunggumu? Bagaimana kabar kepala-kepala yang lelah menunggu atau jenuh akan keterlambatan di jarak antara pintu peron dan tangga menuju kepergian?

Aku rindu. Aku merindukan bulir-bulir air hujan yang menempel di helai rambutku sejak aku menginjak aspal basah hingga tempat teduh dimana aku harus mengantri. Aku merindukan kebiasaan yang kerap kali aku lakukan saat aku hendak memasuki pembatas besi bertuliskan “Batas Antara Penumpang dan Pengantar”, memeluk seseorang. Aku merindukan aksi berlarian setiap kali aku hampir terlambat untuk pergi.

Kau baik-baik sajakah? Tidak merasa bersalah telah membuat orang sebanyak itu menangis di rongga ruangmu  — termasuk aku?

Kepada tempat yang aku rindui sekaligus benci, kapan kita bisa saling menatap lagi?

TAGS
RELATED POSTS

LEAVE A COMMENT

Pangeran Es
Central Jakarta, DKI

Namaku Aditya. Kau sudah tahu Aku tidak akan memberitahumu nama lengkapku. Aku juga tidak akan memberitahumu di mana Aku tinggal. Aku akan memberitahumu sejauh yang aku bisa, karena kau perlu tahu apa yang sedang berlangsung. Kau perlu tahu apa yang sedang terjadi.