Cerita Pendek

Beduk Lebaran

By on 24 Juni 2017

Kututup dan kurapikan kembali lembaran tulisan-tulisan keislaman, menutup pembelajaran otodidak-ku hari ini, sesekali pandangan mata kualihkan ke arah pepohonan yang mulai kembali menghijau setelah disirami hujan 3 bulan terakhir ini. Aku melenguh pelan dan mencoba mengingat kembali suara Mbok yang kemarin siang berdering di handphoneku. Tak sampai beberapa menit, beliau menanyakan kapan aku akan pulang kampung.

3 Tahun sudah aku meninggalkan kampung halaman, mengarungi kehidupan di ibukota. Kota besar diantara 2 kota sejarah bagiku, Bogor dan Depok. Telah banyak yang kuraih dan kudapatkan di sini, baik ilmu pendidikan formal di bangku kuliah maupun tsaqafah keislaman yang aku peroleh dari kajian di beberapa mesjid, selain dari pengalaman hidup yang kudapatkan dari bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.

Ada perasaan rindu yang teramat sangat membuncah di dasar hati, ingin rasanya segera pulang ke kampung halaman mengengok sanak saudara, sekaligus berhari raya bersama keluarga. Terlebih lagi setelah Mbok memintaku mudik lebaran setelah 2 tahun aku tidak pulang kampung, perasaan itu semakin menjadi-jadi, hampir saja amanah mengisi kajian dan kuliah shubuh di beberapa masjid terlupakan, kalau saja para pengurus masjid tak mengingatkannya.

“Alhamdulillahirabbil ‘alamiin…” ucapku lirih seraya membereskan buku fiqh di rak kitab, lalu kuambil Al-Quran untuk mengkhatamkan tadarus ramadhanku kali ini. Tak lama aku tenggelam dalam tilawah mengagungkan kalamullah.

***

“Mas…, sepertinya aku mau pulang hari ini saja” pamitku pada Mas Roni, Ketua Harian Masjid Agung Al-Barkah, sehabis sahur bersama.

“Pulang? Mudik lebaran maksudnya?” tanyanya pelan

Aku cuma tersenyum dan menganggukan kepala mengiyakan

“Amanah dakwah kamu sendiri sudah diselesaikan, belum?” tanyanya kembali masih dengan nada yang pelan

“Alhamdulillah Mas, semua sudah selesai.” jawabku tertunduk

“Oh.., syukur kalau begitu, salam buat keluargamu di Purwokerto. Maaf Mas belum bisa silaturahmi ke sana.” imbuh Mas Roni tersenyum

“Terima kasih Mas.” Aku tersenyum lebar, akhirnya mudik juga tahun ini.

***

Pagi-pagi sekali aku sudah berada di stasiunĀ  Pasar Senen, menunggu datangnya kereta api yang akan mengantarku pulang kampung. Kurang lebih 1 jam penantianku berakhir, setelah kereta Gaya Baru Malam tujuan akhir Yogyakarta tiba di stasiun Pasar Senen dengan selamat. Alhamdulillah kereta api sekarang sudah bagus pelayanannya, teringat pertama kali mudik 3 tahun silam, gerbong kereta yang sangat terbatas dan… ya Allah, penumpangnya luar biasa padat, berjubel, berdesakan, bahkan sampai ada yang bergantungan di pintu kereta.

Alhamdulillah aku duduk di bangku isi 3 orang, dekat dengan lorong. Sesaat kemudian aku mengalihkan pandangan ke arah barisan gerbong kereta mewah yang siap berangkat ke tujuan, sedih rasanya ketika menyadari fasilitas pelayanan umum ini dibedakan berdasarkan tarif ekonomi dan kedudukan seseorang. “Subhanallah… kalau islam dilaksanakan secara kaffah, semua pelayanan umum pasti ditanggung sepenuhnya oleh negara” tak sadar aku bergumam sendiri.

Badhe tindak pundi mas?” tanya Pak Tua di sebelahku yang sedang mengikat barang bawaannya.

Oh.. ee.. Kulo badhe tindak Purwokerto Pak. Bapak badhe tindak pundi?” ucapku tersadar dari lamunan.

Bapak tua itu cuma tersenyum dan mengangguk-anggukan kepala, kerut di wajahnya menggambarkan seribu macam pengalaman hidup yang panjang. Dia berdehem dan melanjutkan pekerjaannya.

Kalau aku berpikir kembali pertanyaan bapak tua tadi, sebenarnya buat apa aku pulang ke rumah? Amanah dan dakwah di masjid Agung dan masyarakat sekitar lumayan banyak, sedangkan di rumah dan kampungku inshaa allah sudah tertangani oleh kakekku yang di kenal sebagai ustadz kampung. Kalaupun aku pulang ke rumah biasanya hanya menambah beban keluarga, bagaimana tidak, keluargaku adalah orang yang tidak mampu, beruntung sekali aku bisa meneruskan sekolah ke perguruan tinggi, tidak seperti dua kakakku yang hanya tamatan Madrasah Aliyah. Pengorbanan keluargaku sangatlah besar demi menyekolahkanku ke perguruan tinggi. Meski aku mendapatkan beasiswa penuh, Bapakku terpaksa menjual sapi untuk biaya hidupku di Ibukota, bahkan kalau bukan karena pertolongan Allah, bisa jadi Kakek ikut menjual musholla untuk biaya hidupku. Tapi untunglah, Mbok mau berkorban menjual cincin perkawinannya atas izin Bapak. Sungguh ini bukanlah pengorbanan yang mudah bagi seorang istri terhadap suami dan anaknya.

***

Sampai di stasiun Purwokerto aku bergegas turun dan mengucap syukur Alhamdulillah, aku dan penumpang lainnya selamat sampai tujuan. Kami serasa bebas dari kerangkeng, bagaimana tidak, selama 7 jam perjalanan duduk di bangku keras tegak lurus berhimpitan dengan barang-barang penumpang yang besar di kereta musim mudik seperti ini.

Sayup-sayup di kejauhan terdengar beduk bertalu-talu menandakan hari raya akan segera tiba, alunan iramanya mengiringi langkahku menyusuri pinggir rel kereta. Aku pun tersenyum, teringat kembali bagaimana waktu kecil berebut memukul beduk musholla setiap kali menjelang lebaran dengan anak-anak kampung, kawan-kawan sepermainanku.

Aku terus melangkah menjauhi stasiun, terpaksa terus berjalan kaki untuk sampai ke rumah karena tak mempunyai cukup ongkos, bahkan untuk sekedar naik becak.

Sepanjang perjalanan aku nyaris tak percaya, dua tahun tanpa pulang kampung, daerahku telah banyak mengalami perubahan, areal sawah yang dahulu hijau menguning sekarang tak nampak lagi, malah berganti dengan bangunan-bangunan beton entah punya siapa. Semakin jauh aku melangkah sampai juga akhirnya tiba di tapal batas kampungku. Sejenak aku berpikir kembali, “Kok, sepertinya tak terdengar alunan suara beduk lagi..?”

Tapi memoriku itu cepat berlalu, begitu terlintas kebiasaan masyarkat kampung menjelang lebaran yang aku suka adalah nganteran atau saling mengantarkan makanan ala kadarnya kepada para tentangganya. “Entahlah…, kalau tahun yang sulit seperti sekarang ini, apakah kebiasaan itu masih berlajut atau tidak?” pikirku sambil terus berlalu.

Akhirnya…, bertepatan dengan gema azan ashar, aku tiba di rumah. Mbok dan kakakku menyambut dengan pelukan haru, mereka sangat gembira melihat aku tiba dengan selamat. Setelah menyimpan barang-barang bawaan, aku bergegas ke belakang mengambil air untuk membersihkan diri dan berwudhu d sumur. Kemudian terus melangkah ke musholla menemu Allah dalam sholat fardhu, sekalian melepas rindu kepada imam musholla, kakekku sendiri.

“Assalamualaikum…,” ucapku mantap sambil mendahului kaki kanan menyentuh lantai musholla.

“Walaikumusallam..” beberapa orang jamaah yang telah menyelesaikan sholatnya menoleh ke arahku, termasuk Kakek.

Setengah berebutan mereka menyalami dan memelukku. Kakek adalah orang terakhir yang memelukku dan mencium kedua pipiku. Begitu sayangnya kakek pada cucunya ini, terkadang aku malu atas pengorbanan yang belum mampu aku balas. Belum pernah aku kembalikan dalam bentuk pengabdian nyata. Inshaa Allah kelak ketika waktunya tiba.

Selepas sholat ashar munfarid, aku kembali ke rumah yang tak jauh dari musholla. Di dipan bambu Bapak dan kakek tampak sedang menungguku sambil tangannya bertasbih, bibirnya berzikir menyebut asma Allah.

“Gimana sekolahmu cah lanang..?” tanya bapak begitu aku duduk di sebalahnya.

” Alhamdulillah pak, kuliahku lancar-lancar aja..” jawabku berseri

“Ngajinya?” timpal kakekku gantian bertanya

“Inshaa Allah masih jalan Kek”

“Syukur kalau begitu…,” Kakek menganggu senang

“Oh iya Kek, kenapa kok ngga ada yang nabuh beduk sekarang?”

Kakek tak menjawab pertanyaanku, malah pandangannya seolah enggan bertatap langsung denganku. Entahlah apa yang sedang beliau pikirkan, aku pun tak ingin bertanya lagi. Aku terus masuk ke rumah yang lebih pantas di sebut gubuk daripada sebentuk rumah, sekalian membantu Mbok di dapur.

Di dapur kulihat Mbok dan kakakku sedang memasak, kemudian akupun turut membantu mereka membelah kayu, iseng-iseng aku membuka panci ingin mengetahui isi panci yang sedang dimasak Mbok. Aku diam terpaku melihat isi panci yang sedang dimasak Mbok.

“Mbok, ini apa yang lagi di rebus?” tayaku penasaran

“Itu… kulit beduk, buat hidangan lebaran besok!” Jawab Kakak mengagetkanku.

“Ya Allah, berarti kayu bakar ini pun…” aku tak sanggup meneruskan kata-kataku, seluruh tubuhku mendadak lemas tak bertenaga.


Bumi Allah Purwokerto, Menjelang lebaran 1438 H

TAGS

LEAVE A COMMENT

Pangeran Es
Central Jakarta, DKI

Namaku Aditya. Kau sudah tahu Aku tidak akan memberitahumu nama lengkapku. Aku juga tidak akan memberitahumu di mana Aku tinggal. Aku akan memberitahumu sejauh yang aku bisa, karena kau perlu tahu apa yang sedang berlangsung. Kau perlu tahu apa yang sedang terjadi.